Berkunjung ke Kota Medan (Bagian 2): Masjid Raya Medan yang Anggun

saya pernah kesini..subhanallah..megahnya rumahMu

Catatanku

Ini lanjutan dari tulisan saya yang pertama: Berkunjung ke Kota Medan (Bagian 1): Dimulai dari SNETE 2012.. Tulisan kedua ini menceritakan pengalaman saya mengunjungi Masjid Raya Medan yang terkenal itu.

Sejak dulu saya hanya bisa melihat foto-foto keindahan Masjid Raya Medan, sekarang saya bisa datang langsung ke sana. Saya ingin sekali shalat di masjid itu. Jika tahun lalu keinginan saya untuk shalat di Masjid Baiturrahman Banda Aceh sudah terwujud, maka tahun ini keinginan saya shalat di Masjid kebanggan orang Medan itu alhamdulillah sudah terkabul.

Di bawah ini foto Masjid Raya Medan dikala rembang petang. Betapa eloknya arsitektur masjid peninggalan kerajaan Melayu Deli itu.

Foto-foto Masjid Raya Medan sering dibidik dari pintu gerbang yang melengkung khas Timur Tengah. Saya pun mencoba mengambil ganbar dari pintu gerbang yang khas itu seperti foto-foto di bawah ini.

Di bawah ini foto saya sedang narsis di pelataran masjid. Halaman masjid sudah dikeramik semua, sudah…

View original post 209 more words

Jalan-Jalan Singkat di San Francisco (Part 2): To The Golden Gate

Carving Life with Letters

Mari kita lanjutkan cerita dari tulisan sebelumnya. Beres dari Fisherman’s Wharf, plan awal saya adalah berjalan menelusuri Marina Blvd. hingga Crissy Field. Dulu saya cek di Google Maps butuh jalan kaki sekitar setengah jam. Di Jepang jalan kaki 20 menit itu sudah biasa sih, jadi saya kira 30 menit tidak masalah. Tapi mengingat saya sudah rada kesorean ditambah kaki sudah gempor parah, rasanya saya ga kuat kalau mesti jalan kaki. Opsi lain adalah naik bus tapi saya ga pernah nyari tau sebelumnya mesti naik bus apa. Akhirnya saya jalan saja berharap ketemu halte bus.

Alhamdulillah tidak lama kemudian saya menemukan halte SF Muni dan pas ada tujuan ke Marina District, jadi saya tunggu bus saja di sana. Setelah naik bus saya pun belum ada ide turunnya nanti di mana. Selama di bus saya cek lagi peta yang saya bawa sambil pasang kuping pak sopir bilang apa tiap berhenti di…

View original post 1,076 more words

“The Great Moment”

The Great Moment., ^_^

Di tengah keramaian, hiruk pikuk suara para “pejantan2” kecil di rumah..aq kembali menata kegiatan2 yang s4 sedikit tak teratur akhir-akhir ini. Sedikit terlena dengan keadaan quw beberapa hari ini, tapi sedikit tak nyaman dengan keadaan ini..terlalu banyak waktu yang rasanya terbuang begitu saja, perlahan kembali aku merindukan kesibukan-kesibukan yang mengisi hari-hariku dulu,lebih kurang selama 3,9 tahun.

Jihad si ganteng duduk di sampingku, seperti biasa dia berceloteh ria, menceritakan apapun yang menurutnya seru..”darimana dia dapatkan sifatnya yang hoby berceloteh (dan mungkin sepertinya aku cukup pendiam,hahaha..)”..Akhirnya suara-suara si pangeran-pangeran kecil itu mulai mereda berganti dengan suara tokoh favorit mereka, para actor cilik “KIAN SANT*NG”..

Mengingat lagi kisahku satu minggu yang lalu, kamis 20 Juni 2012, acara pelepasan alumni baru FKIP UNSRI. Ahh, sepertinya tak ingin hari itu berlalu begitu saja, ingin rasanya hari itu lebih lama daripada hari-hari sebelumnya. Yah, aku bahagia, bahagia sekali..Pelepasan ALUMNI baru, itu berarti kini aku telah menjadi alumni FKIP UNSRI, dengan kata lain aku telah kembali bisa menyelesaikan pendidikanku di jenjang ini, yang artinya sedikit banyak aku bisa membuat bapak tersenyum sumringah dan tak lagi risau dengan biaya-biaya pendidikan yang harus dibayar setiap semester ataupun biaya-biaya lainnya. Setidaknya sekarang aku sudah punya lebih banyak waktu untuk membantu mereka (Umak dan Bapak), sedikit banyak aku membantu meringankan tanggungan mereka selama ini. Betapa tidak, rasanya selama perjalananku menempuh pendidikan, ntah nyata atau tidak aku sepertinya yang paling banyak menghabiskan dana daripada saudara-saudaraku lainnya..(curcol nih..)

Alhamdulillah ternyata diriquw bisa mewujudkan impianku untuk segera wisuda. Bahagiaaaaaaa..yah bahagia sekali, terlebih lagi kebahagiaan itu pun dirasakan oleh orang-orang yang menyayangku, keluarga besar, sahabat dan adik-adik..bahagianya ada di dalam sini, di sini, di hati. Melihat mereka merasakan kebahagiaan yang kurasakan. “THE GREAT MOMENT”, Sebuah moment yang selalu ku dambakan “bahagia bersama dihari wisudaku”. Setelah ku piker-pikir lagi, aku cukup terkejut dengan semangatku, yah semangat menuju “juni”. Aku mampu mewujudkannya, mengingat kondisiku setahun lalu yang sempat membuatku sedikit “down”.Aku akan selalu menangis jika megingatnya, kejadian dan keadaan yang memberikanku pelajaran yang sangat berharga. Thanks god..

3,9 tahun berkecimpung di dunia kampus, membuat ku memiliki banyak sahabat, memiliki keluarga baru dan mendapat banyak adik perempuan (yang sampai saat ini tetap ku harapkan hadirnya tangis seorang bayi perempuan di rumah ini,hehe). Sahabat untuk tertawa, sahabat dalam menangis, sahabat dalam berjuang, sahabat yang selalu merindukan harumnya surga. Terimakasih untuk semua yang telah kalian berikan..

Kedepannya ingin terus mengembangkan senyum ikhlas di wajah umak dan bapak, membantu mereka meraih indahnya surga Allah..

dengan kekuatan cinta semua menjadi nyata..

Belalang dan kenyamanan..

Seperti kita ketahui, belalang adalah binatang kecil berkaki panjang yang sangat hebat dalam urusan soal melompat. Konon ia bisa melompat hingga 100 kali lebih dari panjang badannya.

Demi menguji kehebatan dan pola lompat belalang, sebuah perguruan tinggi mengadakan penelitian dengan menangkap seekor belalang muda yang sehat dan memasukkan ke dalam sebuah kotak berudara, yang di atasnya diberi penutup kaca untuk mengamati ulah si belalang.

 

 

Hari pertama, si belalang melakukan lompatan seperti yang biasa dia lakukan di alam terbuka dan…huup, segera kepalanya terantuk kaca penutup. Pada hari yang sama, kegiatan serupa dilakukannya beberapa kali, dan sebagai akibatnya, si belalang merasakan kesakitan pada tubuhnya yang terbentur berkali-kali. Rupanya, pengalaman itu mengajarkan kepada si belalang untuk mengubah pola lompatan, yang tadinya dengan sekuat kemampuannya, sekarang menyesuaikan diri dengan ketinggian penghalang. Selang beberapa hari, tidak terdengar lagi suara benturan badan belalang ke kaca, dari pengamatan si peneliti, si belalang masih melakukan lompatan, tetapi hanya setinggi di bawah kaca penutup dan tidak mengenainya kaca sama sekali.

Setelah si belalang tidak membentur kaca penutup lagi, sang penetili kemudian menurunkan ketinggian penutup kaca. Terjadi pola yang sama. Pada lompatan-lompatan awal, terdengar benturan badan belalang ke penutup kaca berkali-kali. Dan kembali si belalang mengubah pola ketinggian lompatannya untuk menghindari benturan dan kesakitannya. Hingga suatu ketika, setelah beberapa waktu, tidak lagi terdengar benturan badan belalang ke kaca penutup.

Setelah sekian lama, dengan ketinggian kaca penutup yang diturunkan secara berkala, akhirnya ketinggian kaca penutup ditempatkan hingga setinggi tubuh si belalang. Si belalang tidak lagi bisa melompat, dia hanya bisa bergeser dan berputar sekitar tempatnya bernaung. Selama ini, makanan selalu diberikan dengan posisi yang tercukupi. Akibatnya, belalang sibuk makan dan tidak pernah melompat lagi.

Hingga suatu hari. Si peneliti melepas kembali belalang ke ruang dan alam bebas, ternyata si belalang hanya mampu berjalan ke sana kemari. Ia tetap berusaha mencari makan, tetapi tidak lagi dengan melompat sama sekali.

Netter yang luarbiasa,

Hidup manusia sebenarnya laksana belalang dalam kisah tersebut. Sebab kita sering kali menghadapi halangan dan tantangan yang kadang membuat kita merasa tidak bisa melompat tinggi. Selain itu kenyamanan yang kita terima setiap hari, malah sering “menjebak” kita dalam zona nyaman yang sulit kita tinggalkan.

Padahal sejatinya, jika menilik masa-masa kecil dahulu, saat kita mulai belajar berjalan, kita semua tidak pernah mengenal rasa takut. Ketika jatuh, meski menangis, tapi segera bangkit dan belajar lagi hingga kita mampu berlari. Sayang, seiring dengan tumbuh kembangnya manusia, kadang ada banyak pengaruh lingkungan yang membuat kita takut, jengah, atau cemas saat menghadapi tantangan. Begitu juga saat “jatuh”, kita pun merasa sangat sulit bangkit dan berjalan lagi. Mental block, ketakutan di dalam pikiran sendiri, bahwa “aku tidak bisa”, “aku tidak mampu”, dan seterusnyalah yangsering menjadikan kita sungguh-sungguh menjadi tidak mampu dan akhirnya menerimanya sebagai “nasib yang sudah ditentukan dari sononya”.

Begitu juga saat kita sudah merasa nyaman dengan posisi atau kedudukan kita. Jika kita hanya puas dengan “menikmati” masa itu, tanpa mau belajar dan berusaha mengembangkan diri, maka jangan salahkan jika keberhasilan kita berbatas sampai di situ saja.

Tentu, kita tidak ingin menjadi belalang yang tidak bisa lagi melompat tinggi. Sebab, kita sebagai manusia sebenarnya diciptakan dengan berbagai kelebihan dibanding makhluk lainnya. Keistimewaan kita itulah yang perlu kita pelihara, gali, dan kembangkan. Caranya? Berani terus mencoba mendobrak segala perintang yang menghalang. Jangan terjebak dalam zona nyaman yang melenakan.

Mari, terus gali potensi. Kembangkan semangat juang untuk menang. Maka, kita akan terus bisa melompat tinggi mengapai segala cita-cita..